Wednesday, September 1, 2010

Sebuah Gurun Pasir Baru Bernama CIKARANG

Di hari kamis minggu kemarin, saya sempat mendapatkan panggilan wawancara kerja di salah satu perusahaan yang berlokasi di kawasan industri EJIP (East Jakarta Industrial Park) Cikarang. Berangkat dari rumah di Kebon Jati Sukabumi jam setengah empat shubuh, dengan sahur terlebih dahulu di rumah.


Perjalanan saya awali dari Sukabumi ke Bogor dengan naik perjalanan adrenalin tinggi khas angkutan Colt Bogor-Sukabumi. Saya pun tiba di terminal Baranangsiang Bogor sekitar jam 05.15. 


Perjalanan saya lanjutkan dengan menaiki Bus Agro Mas (atau Argo Mas ya, lupa...) jurusan Bogor-Cikarang. Ini pertama kalinya saya naik jurusan ini. Saya baru tahu, kalau bis jurusan ini singgah dulu di Pasar Rebo lewat ORR (Outer Ring Road) Pondok Indah, untuk kemudian masuk ke Tol ORR Cikunir. Kemudian sempat singgah pula di Toll rest area di sekitar daerah bekasi. Lalu bis ini keluar di pintu tol Cibitung, dan menyusuri jalan raya Cibitung - Cikarang. Di sini saya sempat mengalami kemacetan sekitar setengah jam gara-gara lampu lampu lintas mati. Sambil diselingi macet-macet kecil akibat angkot yang bandel. Nah, akhirnya sampailah saya di terminal Cikarang.


Waktu itu menunjukkan sekitar jam 8 pagi. Udaranya masih gak begitu panas. Anget-anget teh manis gitu lah...hehehe. Dari terminal Cikarang, saya lanjutkan naik angkot Cikarang-Cibarusah yang no. K-17. Rutenya muter-muter, lewat U-turn berkali-kali. Saya turun di perempatan EJIP Cikarang, lalu dilanjutkan dengan ojek 5 ribu rupiah. Tibalah saya di tempat tujuan sekitar jam 9 dengan suhu udara yang mulai panas, sepanas monitor CRT nyala 3 jam-an. Di pabrik dan kantor perusahaan pembuat alat listrik itu saya berada sampai jam 12 siang.


Ketika keluar untuk pulang, saya putuskan tidak naik ojek dan menyusuri jalanan kompleks industri, saya merasakan panasnya matahari yang sangat menyengat. Panas sekali. Apalagi saat itu bulan puasa, dan saya memutuskan untuk berjalan kaki sampai perempatan EJIP Cikarang. Lumayan jauh sih, sekitar 1,5 KM! ha ha ha ha... nekad juga ya? he he he...


Syukurnya, jalan-jalan nekadnya gak sampe perempatan EJIP Cikarang, tapi sampai U-turn dimana angkot K-17 sedang mangkal di situ menunggu penumpang. Sepanjang perjalanan ke terminal Cikarang, dalam hati saya sedikit menyesali "kenapa tadi gak naek ojek ya...abisnya sayang sih ongkos 5 ribu buat naik ojek"....ha ha ha. Selain itu pula, saya coba menganalisa kenapa Cikarang Sebegitu panasnya.


Analisa saya adalah di Cikarang ini sangat JARANG SEKALI yang namanya POHON-POHON besar! Ya, Cikarang tak ubahnya kayak gurun pasir di arab sana. Panas, sedikit pohon-pohonan, dan suasana orang-orangnya juga panasan. Coba aja ya, dibanyakin ditanamin pohon-pohon, mungkin situasinya gak bakal sepanas yang dirasakan saat itu.
Di perjalanan pulang ke sukabumi, saya sangat menderita sekali. Menempuh jarak kurang lebih 100 KM dengan mencoba bertahan dari batalnya puasa. Syukur alhamdulillah, saya tiba di sukabumi jam 5 sore, dengan tubuh capek menunggu jarum jam menunjukkan jam 17.57.  Lemessss euy...


Oh ya, hasil wawancara alhamdulillah sukses. Saya mulai resmi jadi "alien" di Cikarang mulai 1 Oktober nanti. Dan saya pun lagi nyari lokasi kost-an yang suasananya adem dan tidak terlalu panas. kalo bisa sih deket ke mesjid. Ada usul? Ada informasi? komen di bawah ya... 

Friday, July 23, 2010

Biaya Tambah Daya PLN Mahal!!

Pagi ini saya bermaksud ke kantor pelayanan PLN di kota saya untuk menambah daya kios warnet baru. Memasuki ruangan pelayanannya, saya sudah disuguhi pemandangan gak enak. Apa itu? Pelayanannya gak pake nomor antrian! Waktu saya tanyain sama security yang bertugas jaga-jaga di ruangan pelayanan yang berukuran kira-kira 10 x 8 meter itu, dengan tenangnya ia menjawab, "Ah, kan pelanggannya cuma sedikit. gak usah pake nomor antrian segala!" WEW! Kalo menurut saya sih sedikit ataupun banyak ya harus tertib dan teratur donk...

Ironisnya lagi di ruangan pelayanan itu pun terdapat tulisan "MODERN SERVICE" yang terbuat dari besi mengkilap dengan huruf seukuran 30 x 30 cm. Ha ha ha ha ha! Sungguh ironis! Sayangnya gak punya HP berkamera euy. Kalo udah punya mah, sudah pasti saya foto dan pajang di sini.

Anyway, kembali ke topik utama post ini.
Ketika saya akhirnya bisa berhadapan dengan petugas customer service PLN, saya menanyakan berapa biaya tambah daya dari 900 ke 2200 watt. Dan jawabannya membuat saya sedikit kaget. Biayanya 1,2 juta-an rupiah, cuy! Busyet! Mahal nian! Masa sih bisa segitu? kalau dilihat dari cara si petugas menarik biaya segitu, kayaknya sih "resmi" dari PLN, karena didapatnya langsung dari perhitungan software di komputer dia. Masalahnya apa sesuai dengan aturan PLN Pusat, inilah yang saya coba cari tahu!

Kalo ngebaca pengalaman orang di forum detikinet, tambah daya itu memang mahal. Nilainya sama seperti yang sebutkan di atas, 1,2 jutaan. Dia bilang padahal di situs resminya PLN, cuman sekitar 600 ribu-an.

Lalu kemudian, saya masuk ke situs PLN pusat. Saya cari-cari informasi tentang biaya tambah daya, ketemu di halaman web ini. Disitu ada prosedur gimana tambah daya dan simulasi perkiraan biayanya. dan ternyata, simulasi yang mungkin ber-format flash atau Java Script widget itu, kosong! gak tersambung ke server webnya! HA HA HA HA!


Ada apa ini?Koq bisa PLN gak nampilin tuh simulasi? Kira-kira kalian yang ngebaca blog ini tahu gak berapa tarif tambah daya yang bener-bener resminya? Please, comment di bawah ya....

Saturday, September 5, 2009

Pelukan Batin Orang tua dan sang anak

Apakah anda melihat dan mendengarkan acara Ensiklopedi Islam di Metro TV pada tanggal 2 September sesaat sebelum adzan maghrib, dan pasca gempa 7,3 pada skala Richter di daerah Jawa Barat baru lalu? Saya mendapatkan suatu hikmah yang menarik dari acara tersebut, yang mungkin bisa menjadi jawaban dari sekelumit permasalahan keluarga di Indonesia saat ini.

Acara tersebut dipandu oleh Shahnaz Haque, dan menghadirkan Ustadz Abu Sangkan sebagai pembicaranya. Saya benar-benar tidak ingat apa tema acara pada waktu itu. Tapi saya ingat apa yang muncul dari pertanyaan Shahnaz Haque pada sang ustadz yang kira-kira seperti ini (maaf, saya lupa-lupa ingat juga pertanyaan secara persisnya, he he he...) : "Dengan cara apa yang harus kami, para orang tua, lakukan agar dapat menyelamatkan anak-anak kami dari pengaruh narkoba dan hal-hal buruk pergaulan lainnya?"

Lalu Pak Ustadz Abu Sangkan secara bijak menjawab, bahwa ia merujuk pada kebiasaan orang tua ketika menggendong bayinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dipeluknya sang anak yang belum dapat bicara itu dengan eratnya. Pada waktu itulah ada semacam hubungan batin yang dirasakan orang tua dan sang anak, yang membuat keduanya merasakan ketentraman yang luar biasa.

Si orang tua dapat merasakan kebahagian yang tak terkira akan hadirnya sang buah hati sambil ia pun berharap yang terbaik untuk sang anak.

Sedangkan si jabang bayi, yang tadinya lelah menangis, ketika diayun-ayun dalam gendongan dan dipeluk mesra sang ayah/ibu-nya tertidur dengan nikmatnya, sambil merasakan kasih sayang luar biasa dari orang tuanya.

Dan kenapa tidak "Pelukan Batin" semacam ini kita lakukan pada saat sang anak telah beranjak besar, remaja, atau bahkan sudah dewasa? Ustadz Abu Sangkan menyarankan agar kita melakukannya sesering mungkin, sehingga terjadilah hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, dan Insya Allah sang anak pun akan dapat melakukan yang terbaik untuk orang tuanya dan menghindari efek-efek negatif pergaulan dari luar.

Terus terang saya prihatin jika melihat kebanyakan anak-anak remaja akhir-akhir ini. Mereka, dengan penampilan lusuh, berpakaian sesuka mereka-- bergaya emo, yang cewek bercelana pendek memamerkan aurat, dll-- merokok, nongkrong di pinggir jalan yang gak jelas, kadang juga mengganggu ketertiban umum. Sungguh suatu potret yang memilukan dari buruknya hubungan orang tua dan anak.


Semoga dengan pelukan batin yang bisa kita coba sedari mereka kecil sampai dewasa, dapat menjadikan kita, para orang tua dan calon orang tua, memenuhi kebahagiaan hakiki menjadi orang tua, yaitu mempunyai anak yang shaleh/shalehah, berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara. Amiin.